RPP QURDIS KELAS 1 SMT 1

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah             : MI.Nurul Hidayah jp

Kelas / Semester          : I (satu) / (1) Ganjil

Mata Pelajaran            : Qur’an Hadits

Materi Pokok              : Ayat-ayat Al-Qur’an Tentang tauhid (QS. Al-Fatihah, QS. An-Naas, QS. Al-Falaq, QS. Al-Ikhlas)

Pertemuan ke–             : 1 (satu)

Alokasi Waktu            : 1×20 menit

Kompetensi Inti         :

KI-3                            : Memahami pengetahuan (faktual, konseptual dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenoma dan kejadian tampak mata

  1. Kompetensi Dasar

3.2 Memahami isi kandungan QS. Al-Falaq (113) tentang tauhid dalam konsep Islam

  1. Indikator Pencapaian Kompetensi
  2. Menerangkan pengertian tauhid berdasarkan konsep Islam.
  3. Membacakan QS. Al-Falaq(113) serta terjemahannya.
  4. Tujuan Pembelajaran

Dengan menggunakan metode ceramah, diskusi, Tanya jawab(benar salah),cerita, kartu kecil tujuan yang diharapkan, sebagai berikut:

  1. Siswa mampu menerangkan pengertian tauhid berdasarkan konsep Islam.
  2. Siswa mampu membacakan QS. Al-Falaq (113) serta terjemahannya.
  1. Materi Pembelajaran

Terlampir

  1. Metode Pembelajaran
    1. Ceramah
    2. Diskusi
    3. Cerita
    4. Tanya jawab (Benar salah)
    5. Kartu pendek
  2. Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan Deskripsi Alokasi
Pendahuluan 1.   Guru membuka pembelajaran dengan salam dan berdo’a  bersama dipimpin oleh salah seorang siswa dengan penuh khidmat.

2.    Guru memeriksa kehadiran dan tempat duduk siswa secara teratur.

3.   Guru memberikan memotivasi siswa dengan bernyanyi .

4.   Menyampaikan kompetensi dasar dan tujuan yang akan dicapai.

5 menit     
Kegiatan Inti 1.   Mengamati

·         Siswa memerhatikan media power point terkait pengertian tauhid berdasarkan konsep Islam.

·         Siswa mengamati video murattal bacaan QS. Al-Falaq (113) serta terjemahannya.

2.   Menanya

·         Guru memotivasi siswa dengan mengajukan pertanyaan kepada guru terkait tentang pengertian tauhid dan bacaan tentang QS. Al-Falaq dan terjemahannya.

3.   Mencoba

·         Guru menulis ayat secara acak dipapan tulis

·         Langkah-langkah penerapan metode:

1.      Guru menaruh potongan tulisan angka kartu di atas meja .

2.      Guru meminta siswa satu per satu untuk menempelkan setiap kartu sesuai dengan tempatnya.

4.   Menalar

·         Siswa menganalisis tentang pengertian tauhid dan bacaan QS. Al-Falaq (113) serta terjemahannya.

5.      Mengkomunikasikan

·         Guru meminta siswa untuk membacakan   QS. Al-Falaq serta terjemahannya.

15 menit
                         Penutup 1.      Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa terkait arti tauhid serta QS. Al-Falaq (113) serta terjemahannya.

2.      Guru beserta siswa menyimpulkan materi bersama.

3.      Bersama-sama menutup pelajaran dengan berdoa.

5        M  5 menit

 

  1. Alat dan Media pembelajaran
  2. Alat
    1. LCD Projector
    2. Laptop
    3. Speake
    4. Spidol
    5. Kertas kecil
  3. Media
    1. Power Point
    2. Video bacaan QS Al-Falaq (113)
  4. Sumber Belajar
    1. M. Nasikin dkk. (2007). Ayo Belajar Agama Islam, Jakarta: Erlangga.

 

  1. Penilaian Peningkatan Berpikir Kritis Siswa

Penilaian terhadap proses dan hasil pembelajaran dilakukan oleh guru untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi siswa. Penilaian tes yang digunakan adalah uji kompetensi pada akhir bab.

Rata-rata tingkat pemahaman siswa, dihitung dengan rumus:

M=∑X

N

Keterangan:

M = angka rata-rata

∑X= Jumlah skor

N = Jumlah individu

  1. Observasi, guru mengamati masing-masing siswa saat pembelajaran, dengan lembar penilaian observasi sebagai berikut:

OBSERVASI SISWA

No Aspek Tahapan yang Diamati Penilaian
SB B C K
1. Persiapan:        
  Kesiapan siswa sebelum pelajaran dimulai        
  Siswa duduk secara teratur pada masing-masing tempat duduk        
2. Kegiatan Inti:        
  Mengamati pelajaran dari sumber dan media pembelajaran        
  Siswa berpartisipasi dalam menerapkan metode        
  Mengemukakan pendapat ketika diberikan kesempatan        
  Membentuk sikap cermat dan kritis        
  Mendeskripsikan pengaliran bayangan dengan bahasa yang jelas        
  Mengajukan pertanyaan        
3. Penutup:        
  Keterlibatan siswa memberi kesimpulan materi pelajaran        

 

Skor Maksimum : 10

 

 

Keterangan:

P = Presentase yang di cari

F = Frekuensi

N = Jumlah penilaian siswa

 

 

Mengetahui,

Kepala Sekolah

 

 

 

 

 

  Jakarta, 5 November 2016

 

Guru MaPel Qur’an Hadis

 

 

 

Siti Badriyah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

Beriman kepada Rasul

  1. Pengertian Iman Kepada Rasul

Dalam bahasa Arab, kata Rasul berarti utusan. Menurut istilah, rasul adalah orang yang diberi wahyu oleh Allah swt berupa suatu perintah syariat sesuatu untuk disampaikan kepada umatnya.

  1. Cara Mengimani Para Rasul

Ada dua hal penting tentang cara mengimani para rasul, yaitu:

  1. Tidak boleh membedakan antara rasul yang satu dan yang lainnya, maksudnya kita wajib mengimani bahwa keseluruhan rasul Allah swt yang disebutkan dalam alquran adalah benar-benar utusan Allah swt serta meykini bahwa nabi Muhammad saw adalah Rasul terakhir hingga hari akhir.
  2. Mengikuti ajarannya dengan sepenuh hati, maksudnya Allah mengutus para rasul untuk kaumnya masing-masing. Namun, sebagai manusia kita wajib mengikuti jejak nabi Muhammad karena ajaran-ajaran rasul sebelumnya hanya berlaku pada umatnya saja dan tercantum dalam alquran.
  1. Nama-nama Rasul Allah

Adapun diantara rasul-rasul Allah yang wajib diketahui seperti yang tercantum dalam alquran ada 25 rasul, yaitu sebagai berikut:

  1. Adam 11. Luth                                  21. Yunus
  2. Idris 12. Ayyub                               22. Zakaria
  3. Nuh 13. Syu’aib                              23. Yahya
  4. Hud 14. Musa                                 24. Isa
  5. Shaleh 15. Harun                                25. Muhammad saw
  6. Ibrahim 16. Zulkifli
  7. Isma’il 17. Daud
  8. Ishaq 18. Sulaiman
  9. Ya’qub 19. Ilyas
  10. Yusuf  20. Ilyasa’
  11. Sifat-sifat Rasul Allah

Seorang muslim wajib membenarkan semua Rasul dengan sifat-sifat, kelebihan dan keistimewaan satu sama lain, tugas dan mukjizat masing-masing seperti yang dijelaskan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya didalam Al-qur’an dan Sunnah Rasul. Tidak sah iman seseorang yang menolak walau hanya satu orang Nabi atau Rasul dari seluruh Nabi dan Rasul-Rasul yang diutus oleh Allah SWT.

Iman kepada rasul adalah taat, patuh, dan tunduk kepada mereka dengan mengikuti perintahnya dan menjauhi larangan, dan mengarungi kehidupan ini berdasarkan manhaj mereka, karena para rasul adalah para penyampai wahyu Allah swt., dan rasul adalah suri teladan bagi umatnya. Adapun sifat-sifat rasul Allah dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu sifat wajib, Mustahil, dan jaiz sebagai berikut:

  1. As-Shiddiq (benar), Artinya selalu berkata benar , tidak pernah berdusta dalam keadaan bagaimanapun. Mustahil seorang Rasul mempunyai sifat Kazib atau (pendusta), karena hal tersebut menyebabkan tidak adanya orang yang membenarkan risalahnya.
  2. Al-Amanah (dipercaya), Artinya seorang Rasul selalu menjaga dan menunaikan amanah yang dipikulkan ke pundaknya. Mustahil seorang Rasul memiliki sifat Khianat atau (berkhianat). Seseorang yang khianat tidak pantas menjadi Nabi, apalagi Rasul.
  3. At-Tabligh (menyampaikan), Artinya seorang Rasul akan menyampaikan apa saja yang diperintahakan oleh Allah SWT untuk disampaikan. Mustahil seorang Rasul mempunyai sifat Kitman atau (menyembunyikan) wahyu ilahi. Jika itu terjadi tentu batal nubuwwah dan risalahnya.
  4. Al-Fathanah (cerdas), Artinya seorang Rasul memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi, pikiran yang jernih, penuh kearifan, dan kebijaksanaan. Mustahil seorang Rasul memiliki sifat Baladah atau (tidak cerdas atau pelupa).

Sifat jaiz para rasul, yaitu kebolehan yang berupa sifat-sifat manusiawi yang dimiliki setiap orang pada umumnya, sepanjang sifat-sifat tersebut tidak mengurangi martabat kerasulannya yang mulia. Sifat-sifat manusiawi itu, misalnya: makan, minum, tidur, beristri, sedih, dan sebagainya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

CONTOH SOAL IPS KELAS 5

  1. Pada awal kemerdekaan indonesia terdiri atas ….
  2. Provinsi terluas wilayahnya di pulau kalimantan timur adalah ….
  3. Provinsi Gorontalo berdiri pada tahun 2000. Sebelumnya Gorontalo termasuk provinsi ….
  4. Secara geografis, wilayah Indonesia terletak diantara ………dan ………….
  5. Letak astronomi kepulauan Indonesia di antara ………………….
  6. Negara Malaysia dan Brunei Darussalam berbatasan langsung dengan Indonesia bagian ……..
  7. ASEAN singkatan dari ………
  8. Sebutkan negara ASEAN ………………..
  9. Alat yang digunakan untuk mengukur kecepatan angina disebut ……….
  10. Perbatasan bagian selatan Negara Singapura adalah ……..
  11. Singapura terkenal dengan julukan ………….
  12. Kegiatan ekonomi yang dilakukan Negara Singapura adalah ………..
  13. Apa ibukota Malaysia ………….
  14. Batas wilayah Malaysia bagian selatan adalah ………
  15. Penduduk Negara Malaysia sebagian besar dari golongan ……………., …………….., dan ………….
  16. Ibukota Filipina adalah ……………
  17. Iklim yang terdapat di Filipina adalah ………….
  18. Thailand terkenal dengan julukan ……………
  19. Ibukota Thailand adalah …………..
  20. Agama yang dianut di Negara Thailand adalah ………….
  21. Kegiatan ekonomi yang dilakukan di Thailand adalah …………..
  22. Hasil tambang terbesar di Brunei Darussalam adalah …………..
  23. Hasil tanaman perkebunan di Brunei Darussalam berupa …………..
  24. Bagian utara Vietnam adalah ………….
  25. Hasil pertambangan Negara Laos adalah ………….
  26. Secara letak geografis Indonesia terletak diantara 2 benua dan 2 samudra apakah itu ………..
  27. Sebutkan ciri-ciri gejala social yang ada di ASEAN …………..
  28. Samudera yang paling luas adalah samudra ………………
  29. Benua terbesar di dunia adalah …………….
  30. Sebutkan penyebab rendahnya produktivitas pertanian Negara sedang berkembang ……………
  31. Sebutkan Negara-negara maju yang ada di dunia ………….
  32. Apa yang membedakan Negara maju dengan Negara berkembang ……………
  33. Di Inggris terkenal dengan julukan ……………
  34. Sebutkan Negara bagian barat yang menggunakan system kerajaan …………..
  35. Sungai terluas di Mesir adalah ………………

Contoh soal Isian Quran Hadis kelas 3

A. Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang tepat !

  1. Al-humazah artinya adalah ….
  2. Orang yang sering mengumpat akan dimasukkan kedalam neraka ….
  3. At-takasur artinya ….
  4. Surat at-takasur ada …. ayat.
  5. Wailul likulli humazatil lumazah artinya adalah ….
  6. Orang ynag sering mengumpat akan dibakar sampai ke ….
  7. Yahsabu anna malahu akhladah adalah ayat ke ….
  8. Dan mereka diikat pada ….
  9. Orang ynag bermegah-megahan akan di masukan kedalam neraka ….                              B. Jawablah Pertanyaan-pertanyaan ini!
  10. Tuliskan ayat pertama surat at-takasur!
  11. Tuliskan ayat pertama surat al-humazah!
  12. Apakah arti al-humazah?
  13. Apakah arti at-takasur?
  14. Sebutkan 3 orang yang akan dimasukan kedalam neraka hutamah ?

KERAMPILAN BERTANYA

  1. Defenisi dan Fungsi Pertanyaan

Dalam proses belajar mengajar bertanya memainkan peranan penting sebab pertanyaan yang tersusun dengan baik dan teknik penyampaian yang tepat pula akan memberikan dampak positif terhadap siswa.

Cara ini merupakan hak istimewa bagi seorang guru karena berasumsi akan mendapat jawaban, pertanyaan dapat menjadi alat guru untuk merangsang kegiatan berfikir siswa. Guru juga dapat menggunakan jawaban  siswa untuk mengecek aktifitas pengajarannya yang sedang berlangsung.tentu saja pertanyaan dapat diajukan secara lisan dan tertulis demikian pula dengan jawabannya. Pertanyaan dan jawaban yang tertulis kiranya bersifat formal dan pada umumnya mirip dengan latihan yang sama dari pada tanya jawab lisan yang berlangsung cepat. Bagaimanapun pertanyaan-pertanyaan disusun menurut urutan yang berarti. Satu pertanyaan yang kurang relevan dapat membingungkan siswa, dan siswapun akan mengalami banyak kesukaran menjawabnya, jika rangkaian tanya jawab itu tidak diurutkan dengan baik. Dalam pengajaran berprogram prosedur yang demikian disebut “urutan penolong”.

Pertanyaan juga dapat berfungsi sebagai pengatur, guru harus mendorong siswa agar menjawab pertanyaan dengan suara yang nyaring dan tidak mengulangi jawaban siswa kecuali jika memang perlu atau jika siswa tersebut merupakan kasus khusus. Pertanyaan juga dapat membentuk pribadi siswa. Namun, hal itu tergantung pertanyaan yang diajukan gurunya.[1]

Dalam kehidupan sehari-hari adakalanya kita tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan yang diajukan.Banyak penyebab yang memungkinkan pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab dengan baik. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa kegagalan dalam bertanya adalah karena belum menguasai kecakapan menggunakan keterampilan bertanya.

Keterampilan bertanya sangat penting dikuasai oleh guru, keterampilan ini merupakan salah satu kunci untuk meningkatkan mutu dan kebermaknaan pembelajaran. Dengan demikian, setiap guru harus terampil dalam mengembangkan pertanyaan. Pertanyaan dalam pembelajaran bukan hanya untuk mendapatkan jawaban atau informasi dari pihak yang ditanya. Jauh lebih luas dari itu adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.[2]

Untuk menjawab pertanyaan diatas, tampaknya kita perlu mengambil satu kesepakatan. Menurut G. A Brown  dan R. Edminson (1984). Mendefinisikan pertanyaan sebagai segala pertanyaan sebagai pernyataan yang menginginkan  tanggapan Verbal (lisan). Dengan mengambil defenisi ini, kalimat diatas dapat digolongkan pertanyaan. Dengan perkataan lain, pertanyaan tidak selalu dalam bentuk kalimat tanya, tapi juga dalam bentuk kalimat pertintah atau kalimat pertanyaan.

Fungsi pertanyaan didalam kegiatan pembelajaran Menurut  Turney (1979) mendefenisikan 12 fungsi pertanyaan seperti itu :

  1. Membangkitkan minat  dan keingintahuan siswa tentang suatu topik.
  2. Memusatkan perhatian pada masalan tertentu.
  3. Menggalakkan penerapan belajar aktif.
  4. Merangsang siswa mengajukan pertanyaan sendiri.
  5. Menstruktur tugas – tugas hingga kegiatan belajar dapat berlangsung secara maksimal.
  6. Mendiagnosis kesulitan belajar siswa.
  7. Mengkomunikasikan dan merealisasikan bahwa semua siswa harus terlibat secara aktif dalam pembelajaran.
  8. Menyediakan kesempatan bagi siswa untuk mendemonstrasikan  pemahamannya tentang informasi yang diberikan.
  9. Melibatkan siswa dalam memamfaatkan kesimpulan yang dapat mendorong mengembangkan proses berfikir.
  10. Mengembangkan kebiasaan menanggapi pertanyaan teman atau pernyataan guru.
  11. Memberi kesempatan untuk belajar berdiskusi.
  12. Menyatakan perasaan dan pikiran yang murni kepada siswa.

Masih banyak  lagi fungsi pertanyaan yang dilaporkan oleh para peneliti namun dari daftar diatas, sudah dapat kita simpulkan bahwa fungsi pertanyaan tersebut sangat bervariasi.

  1. Keterampilan Bertanya Dasar
    1. Pengertian

Pengertian keterampilan bertanya dasar secara etimologis bertanya diuraikan menjadi dua suku kata yaitu “terampil dan tanya”. Menurut kamus bahasa Indonesia “bertanya” berasal dari kata “tanya” yang berarti antara lain permintaan keterangan. Sedangkan kata “terampil” memiliki arti “cakap dalam penyelesaian tugas ataupun mampu dan cekatan”. Dengan demikian keterampilan bertanya secara sederhana dapat diartikan dengan kecakapan atau kemampuan seseorang dalam meminta keterangan atau penjelasan dari orang lain atau pihak yang menjadi lawan bicara.

Menurut John. I. Bolla dalam proses pembalajaran setiap pertanyaan baik berupa kalimat tanya atau suruhan, yang menuntut respon siswa, sehingga siswa memperoleh pengetahuan dan meningkatkan kemampuan berfikir, dimasukkan pertanyaan. Pendapat serupa dikemukakan oleh G.A. Brown dan R.Edmonson dalam Siti Julaeha, pertanyaan adalah segala pertanyaan yang menginginkan tanggapan verbal (lisan).

Merujuk pada dua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pertanyaan yangn diajukan tidak selalu dalam rumusan kalimat Tanya, melainkan dalam bentuk suruhan atas pertanyaan, selain tiu dimaksudkan adanya respon siswa.

  1. Tipe dan syarat-syarat bertanya

Adapun Tipe dan bentuk pertanyaan sangat beragam, penggunaan dalam bentuk setiap pertanyaan bergantung pada tujuan  yang diharapkan, tipe pertanyaan yaitu:[3]

  • Pertanyaan yang menuntut fakta-fakta, yaitu pertanyaan untuk mengembangkan atau melatih daya ingat siswa terhadap sesuatu yang pernah dipelajarinya.
  • Pertanyaan yang menuntut kemampuan yang membandingkan, yaitu pertanyaan untuk mengembangkan atau melatih daya fakir analisis dan sintesis.
  • Pertanyaan yang menuntut kemampuan memperkirakan, yaitu pertanyan untuk mengembangkan atau melatih kemampuan atau membuat perkiraan-perkiraan.
  • Pertanyaan yang menuntut kemampuan analisis, yaitu pertanyaan untuk mengembangkan dan melatih kemampuan daya analisis.
  • Pertanyaan yang menuntut pengorganisasian, yaitu pertanyaan untuk mengembangkan atau melatih kemampuan berfikir secara teratur.
  • Pertanyaan yang tidak perlu dikemukakan jawabannya, yaitu pertanyaan untuk memberikan penegasan atau meyakinkan tentang suatu kepada siswa. Pertanyaan ini digolongkan dengan pertanyaan retorika yang tidak perlu mendapatkan jawaban.

Syarat pertanyaan yang harus diperhatikan agar pertanyaan yang diajukan kepada siswa mendapat respon yangn baik adalah:[4]

  1. Pertanyaan yang disampaikan dengan menggunakan kalimat atau bahasa yang mudah ditangkap oleh pihak yang ditanya (siswa).
  2. Pertanyan diajukan secara klasikal, berikan waktu untuk berfikir kemudian baru diajukan salah seorang yang diminta untuk menjawabnya.
  3. Beri kesempatan secara adil dan merata kepada setiap siswa untuk mendapatkan pertanyaan.
  4. Penunjukan siswa yang diminta jawaban tidak dilakukan secara berurutan atau sistematis akan tetapi, harus diusahakan secara acak agar setiap siswa memusatkan perhatian dan memiliki kesiapan untuk menjawab pertanyaan.
  5. Komponen Keterampilan Bertanya Dasar
  6. Penggunaan pertanyaan secara jelas dan singkat.

Pertanyaan guru harus diungkapkan secara jelas dan singkat dengan menggunakan kata-kata yang dapat difahami oleh siswa sesuai dengan taraf perkembangannya.

  1. Pemberian acuan.

Kadang-kadang guru perlu memberikan acuan yang berupa pertanyaan yang berisi informasi yang relevan dengan jawaban yang diharapkan.

  1. Pemindahan giliran.

Adakalanya satu pertanyaan perlu dijawab oleh lebih dari satu siswa, karena jawaban siswa benar atau belum memadai.

Untuk melibatkan siswa sebanyak-banyaknya dalam pembelajaran, guru perlu menyebarkan giliran menjawab pertanyaan secara acak.

  1. Pemberian waktu berfikir

Setelah mengajukan pertanyaan kepada seluruh siswa, guru perlu memberi waktu untuk berfikir sebelum menunjuk salah seorang siswa untuk menjawab.

  1. Pemberian tuntunan

Bila siswa itu menjawab salah atau tidak bisa menjawab pertanyaan, guru hendaknya memberikan tuntunan kepada siswa itu agar dapat menemukan sendiri jawaban yang benar.[5]

  1. Prinsip-Prinsip Keterampilan Bertanya Dasar

Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam menggunakan keterampilan bertanya antara lain:

  1. Kehangatan dan keantusiasan
  2. Memberikan waktu berfikir

Disamping kedua prinsip tersebut diatas, untuk mengefektifkan keterampilan bertanya, hendaknya menghindari hal-hal seperti berikut ini:[6]

  1. Mengulangi pertanyan sendiri
  2. Mengulangi jawaban siswa
  3. Menjawab pertanyaan sendiri
  4. Mengajukan pertanyaan yang memancing jawaban serentak
  5. Mengajukan pertanyaan ganda
  6. Menetukan siswa yang akan menjawab pertanyaan.
  7. Keterampilan Bertanya Lanjut
    1. Pengertian

Dalam kegiatan pembelajaran diatas telah dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan keterampilan bertanya dasar adalah pertanyaan pertama atau pembuka untuk mendapatkan keterangan atau informasi dari siswa. Utnuk menindak lanjuti pertanyaan pertama diikuti oleh pertanyaan berikutnya atau disebut dengan pertanyaan lanjut.

Dengan demikian pertanyaan lanjut adalah kelanjutan dari pertanyaan pertama (dasar) yaitu mengorek atau mengungkapkan kemampuan berfikir yang lebih dalam dan komperehensif dari pihak yang diberi pertanyaan (siswa). Keberhasilan mengembangkan kemampuan berfikir yang dilakukan melalui bertanya lanjut banyak dipengaruhi oleh hasil pembelajaran yang dikembangkan melalui pengggunaan pertanyaan dasar.

Kemampuan bertanya lanjut sebagai kelanjutan dari bertanya dasar lebih mengutamakan usaha mengembangkan kemampuan berfikir, memperbesar partisipasi dan mendorong lawan bicara agar lebih aktif dan kritis mengembangkan kemampuan berpikirnya. Melalui bertanya lanjut setiap siswa dirangsang untuk aktif berpikir melakukan berbagai aktifitas belajar, sehingga proses dan hasil pembelajran akan lebih dinamis dan berkualitas. Oleh karena itu, bagi setiap calon guru atau para guru yang menerapkan keterampilan bertanya dasar maupun lanjut harus dilatih dan dikembangkan sehingga akan menjadi daya kekuatan untuk menunjang kemampuan sebagai tenaga guru yang lebih profesional.[7]

  1. Tujuan dan manfaat bertanya lanjut

Tujuan dan manfaat dari keterampilan bertanya dasar masih relevan dan berlaku pula untuk kepentingan bertanya lanjut. Namun, untuk kepentingan bertanya lanjut, tujuan dan manfaat itu lebih luas lagi dan ada hal-hal yang belum terjangkau oleh tujuan dan manfaat dari pertanyaan lanjut yang dimaksud yaitu memungkinkan siswa dapat mengembangkan kemampuannya dalam mengatasi masalah atau mengembangkan kemampuan berfikir secara lebih tajam analitis dan komperehensif. Lebih spesifik tujuan dan manfaat dari bertanya lanjut adalah:

  • Mengembangkan kemampuan berfikir siswa untuk menemukan, mengorganisasi atau menilai atas informasi yang diperoleh.
  • Meningkatkan kemampuan siswa dalam membentuk dan mengungkapkan pertanyaan-pertanyan yang didasarkan atas informasi yang lebih lengkap dan relevan.
  • Mendorong siswa untuk mengembangkan dan memunculkan ide-ide yang lebih kreatif dan inovatif.
  • Memberi kesempatan untuk melakukan proses pembelajaran kepada hal-hal  yang lebih analitis, rumit dan kompleks.
    1. Penggolongan pertayaaan lanjut
  • Pertanyaan ingatan (knowledge), pertanyaan ingatan adalah jenis pertanyaan yang mengharapkan siswa dapat mengenal atau mengingat informasi.
  • Pertanyaan pemahaman (comprehension)  adalah pertanyaan yang diarahkan untuk membuktikan bahwa siswa telah mempunyai pengertian yang cukup untuk mengorganisasikan dan menyusun materi-materi yang telah diketahui sebelumnya.
  • Pertanyaan penerapan (application) adalah kemampuan mengingat, menginterpretasikan atau mendiskripsikan (menggambarkan) diperlukan dan menjadi salah satu indicator dari hasil pembelajaran.
  • Pertanyaan analisis (analysis) yaitu pertanyaan untuk mengembangkan kemampuan berfikir siswa secara lebih rinci, kritis dan mendalam, yaitu pertanyan analisis.
  • Pertanyaan sintesis (syntesis) pertanyaan ini digolongkan pada pertanyaan tingkat tinggi yang meminta siswa menampilakan pikiran-pikiran yang original dan kreatif.
  • Pertanyaan evaluasi. Pertanyaan ini digolongkan kepada pertanyaan tinggi bahkan merupakan puncaknya.
    1. Prinsip penggunaan Bertanya Lanjut

Prinsip-prinsip yang berlaku pada keterampilan bertanya dasar berlaku pula sebagai prinsip bertanya lanjut, prinsip-prinsip tersebut yaitu antara lain kehangatan, keantusiasan, menghindari kebiasaan mengulangi pertanyaan sendiri, mengulangi jawaban siswa, menjawab pertanyaan sendiri, mengajukan pertanyaan ganda dan pertanyaan yang memancing jawaban serentak.

  1. Komponen-komponen Keterampilan Bertanya

Komponen-komponen yang termasuk dalam keterampilan bertanya lanjut:

  • Terjadinya Pengubahan tuntunan tingkat kognitif pertanyaan: untuk mengembangkan kemampuan berfikir siswa diperlukan pengubahan tuntunan tingkat kognitif pertanyaan.
  • Urutan pertanyaan: pertanyaan yang diajukan haruslah mempunyai urutan yang logis.
  • Melacak yaitu untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa yang berkaitan dengan jawaban yang dikemukakan, keterampilan melacak perlu untuk dimiliki oleh guru.
  • Keterampilan mendorong interaksi antar siswa.
  1. Jenis-Jenis Pertanyaan Yang Baik
  2. Jenis pertanyan menurut maksudnya
    • Pertanyaan permintaan, yakni pertanyaan yang mengharapkan agar siswa mematuhi perintah yang diucapkan dalam bentuk pertanyaan.
    • Pertanyaan retoris, yakni pertnayaan yang tidak menghendaki jawaban, tetapi dijawab sendiri oleh guru.
    • Pertanyaan yang mengarahkan atau menuntun, yaitu pertanyaan yang diajukan untuk memberi arah kepada siswa dalamm proses berfikir.
    • Pertanyaan menggali,yaitu pertanyaan lanjutan yang akan mendorong murit untuk lebih mendalami jawabannya terhadap pertanyaan pertama.
  3. Jenis pertanyaan menurut luas sempitnya sasaran.
  • Pertanyaan sempit, pertanyan ini membutuhkan jawaban yang tertutup dan biasanya kunci jawabannya telah  tersedia.
  • Pertanyaan sempit informasi langsung
  • Pertanyaan sempi memusat.
  • Pertanyaan luas
  • Pertanyaan luas terbuka
  • Pertanyaan luas memusat
  1. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Memberi Pertanyaan          
  2. Sebelum memberi pertanyaan hendaknya guru sudah mengetahui jawaban yang dimaksud, sehingga jawaban yang menyimpang dari siswa akan segera dapat diketahui dan diatasi.
  3. Guru harus mengetahui pokok masalah yang ditanyakan dan memberi pertanyaan sesuai dengan pokok yang dibahas.
  4. Hendaknya guru memberi pertanyaan dengansikap hangat dan antusias agar murid berpartisipasi dalam proses belajar mengajar, maka guru harus menunjukkan sikap yang baik diwaktu bertanya dan menerima jawaban dari siswa. Ada beberapa sikap yang perlu diperhatikan guru dalam bersikap diwaktu bertanya atau menerima jawaban.
  5. Menunjukkan gaya, ekspresi wajah, posisi badan dan gerakan badan yang baik dan tepat diwaktu memberi pertanyaan dan menerima jawaban.
  6. Memberi penguatan bagi siswa yang menjawab dengan benar
  7. Mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dengan cara yang simpatik.
  8. Apabila guru tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan yang diajukan siswa hendaknya tidak langsung menjawab dengan berbelit-belit atau menjawab dengan sekedarnya.
  9. Menerima jawaban siswa dengan menggunakan sebagai tolak uraian selanjutnya. Hal ini penting untuk mengaitkan bahan yang dibahas dengan materi yang sudah dimiliki siswa berdasarkan jawaban itu.
  10. Hendaknya guru menghindari beberapa kebiasaan yang tidak perlu, yang bisa merugikan siswa dalam proses belajarnya.[8]
  11. Kelemahan dan kelebihannya
  12. Kelamahannya
  • Mudah menjurus kepada hal yang tidak dibahas.
  • Bila guru kurang waspada pedebatan beralih kepada sentiment pribadi.
  • Tidak semua anak mengerti dan bisa mengajukan pendapat.
  1. Kelebihannya
  • Mempererat hubungan keilmuan antara guru dan siswa.
  • Melatih anak-anak mengeluarkan pendapatnya secara merdeka, sehingga pelajaran akan lebih menarik.
  • Menghilangkan verbalisme, individualisme dan intelektualisme.

[1] W. James Popham, dkk, Teknik Mengajar Secara Sistematis, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003), h. 89

[2] Dadang Sukirman, dkk, Pembelajaran Mikro, (Bandung: UPI Press, 2006), h. 177

[3] H. Udin S. Winata Putra, dkk, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Universitas terbuka, 2002), h. 179

[4] H. Udin S. Winata Putra, ibid, h. 180

[5] Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru yang Profesional , (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), h. 77

[6] H. Udin Winata, Op. Cit, h. 182

[7] Ibid, h. 187

[8] Sutomo, Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar, (Surabaya: Usaha Nasional, 1993), h. 79

IMAN PADA RASUL

  1. Pengertian Iman Kepada Rasul

Rasul dalam kamus bahasa Arab berasal dari kata رُسُوْلٌ ج رُسُلٌ yang artinya utusan, pesuruh, rasul.[1] Rasul adalah nama bagi risalah atau bagi yang diutus.

Sedangkan Nabi berasal dari kata “نَبَاٌوَاَنْبَا “ yang mengabarkan, berita. Adapun Nabi yang berasal dari kata نَبَاَ- يَنْبَأُ- نَبْأً- نُبُوءًا artinya tinggi.[2]

Jadi, nabi adalah yang memberitakan dari allah dan ia diberi kabar dari sisiNya dan nabi adalah makhluk yang termulia dan tertinggi derajat atau kedudukannya. Adapun.[3]

Iman kepada Nabi dan Rasul ialah percaya bahwa Allah swt telah memilih diantara manusia, beberapa orang yang bertindak sebagai utusan Allah. Mereka bertugas menyampaikan wahyu yang diterima dari Allah swt melalui malaikat Jibril. Kebanyak ulama berpendapat bahwa jika ia diperintahkan oleh Allah untuk menyampaikan wahyu itu pada umat manusia disebut Rasul dan jika ia tidak demikian maka disebut Nabi.[4]

Beriman kepada para rasul adalah salah satu dari rukun iman, Allah berfirman:[5]

z`tB#uä ãAqߙ§9$# !$yJÎ/ tA̓Ré& Ïmø‹s9Î) `ÏB ¾ÏmÎn/§‘ tbqãZÏB÷sßJø9$#ur 4 <@ä. z`tB#uä «!$$Î/ ¾ÏmÏFs3Í´¯»n=tBur ¾ÏmÎ7çFä.ur ¾Ï&Î#ߙâ‘ur Ÿw ä-ÌhxÿçR šú÷üt/ 7‰ymr& `ÏiB ¾Ï&Î#ߙ•‘ 4 (#qä9$s%ur $uZ÷èÏJy™ $oY÷èsÛr&ur ( y7tR#tøÿäî $oY­/u‘ šø‹s9Î)ur 玍ÅÁyJø9$# ÇËÑÎÈ

Artinya: “Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan Kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah (2): 285)

Allah swt memperkenalkan sebagian saja dari para Nabi dan Rasulnya, dan yang telah diterangkan dalam alquran hanya 25 Nabi dan Rasul. Mereka inilah yang wajib kita ketahui satu persatu dan wajib pula kita mempercayai kenabian dan kerasulannya, yakni sebagai berikut:[6]

 

  1. Adam as 11. Luth as                  21. Yunus as
  2. Idris as 12. Ayyub as               22. Zakaria as
  3. Nuh as 13. Syu’aib as 23. Yahya as
  4. Hud as 14. Musa as                 24. Isa as
  5. Shaleh as 15. Harun as 25. Muhammad saw
  6. Ibrahim as 16. Zulkifli as
  7. Isma’il as 17. Daud as
  8. Ishaq as 18. Sulaiman as
  9. Ya’qub as 19. Ilyas as
  10. Yusuf as 20. Ilyasa’ as
  11. Cara Mengimani Rasul

Seorang muslim wajib beriman kepada seluruh Nabi dan Rasul yang telah diutus oleh Allah SWT, baik yang disebutkan namanya maupun yang tidak disebutkan namanya. Bagi yang tidak disebutkan namanya kita wajib beriman secara ijmal saja, sedangkan bagi yang disebutkan namanya kita wajib beriman secara tafshil. Seorang muslim wajib membenarkan semua Rasul dengan sifat-sifat, kelebihan dan keistimewaan satu sama lain, tugas dan mukjizat masing-masing seperti yang dijelaskan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya didalam Al-qur’an dan Sunnah Rasul. Tidak sah iman seseorang yang menolak walau hanya satu orang Nabi atau Rasul dari seluruh Nabi dan Rasul-Rasul yang diutus oleh Allah SWT.[7]

Iman kepada rasul adalah taat, patuh, dan tunduk kepada mereka dengan mengikuti perintahnya dan menjauhi larangan, dan mengarungi kehidupan ini berdasarkan manhaj mereka, karena para rasul adalah para penyampai wahyu Allah swt., dan rasul adalah suri teladan bagi umatnya.[8]

Beriman kepada rasul mencakup empat perkara, yaitu:[9]

  1. Beriman bahwa risalah mereka adalah haq (benar) dari Allah swt.
  2. Beriman kepada nabi-nabi yang disebutkan namanya oleh Allah swt. Maupun yang tidak disebutkan.
  3. Membenarkan berita-berita yang benar tentang para rasul.
  4. Mengamalkan syari’at rasul yang diutus kepada kita dan dia adalah rasul yang paling utama dan menjadi penutup segenap rasul, yaitu Nabi Muhammad saw.
  1. Sifat-sifat yang Dimiliki Para Rasul

Adapun yang dimaksud dengan iman kepada para Rasul ialah setiap orang muslim wajib mengimani bahwa Allah swt. Mengutus mereka itu dengan membawa kegembiraan. Allah swt telah mengokohkan kebenaran, diutuskan mereka itu dengan memberikan beberapa mukjizat. Selain itu, umat muslim wajib pula mengimani sifat-sifat apa yang wajib dan Mustahil yang dimiliki oleh Rasul:[10]

  • As-Shiddiq (benar), Artinya selalu berkata benar , tidak pernah berdusta dalam keadaan bagaimanapun. Apa yang dikatakan oleh seorang Rasul – baik berupa janji, berita, ramalan masa depan, dan lain-lain – selalu mengandung kebenaran.

 

(#qä9$s% $uZn=÷ƒuq»tƒ .`tB $uZsVyèt/ `ÏB 2$tRωs%ö¨B 3 #x‹»yd $tB y‰tãur ß`»oH÷q§9$# šXy‰|¹ur šcqè=y™ößJø9$# ÇÎËÈ

Artinya: “Mereka berkata: “Celakalah kami! siapakah yang membangkitkan Kami dari tempat-tidur Kami (kubur)?”. Inilah yang dijanjikan (tuhan) yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya).” (QS:Yasin (36):52)

Mustahil seorang Rasul mempunyai sifat Kazib atau (pendusta), karena hal tersebut menyebabkan tidak adanya orang yang membenarkan risalahnya.

  • Al-Amanah (dipercaya), Artinya seorang Rasul selalu menjaga dan menunaikan amanah yang dipikulkan ke pundaknya. Mustahil seorang Rasul memiliki sifat Khianat atau (berkhianat). Seseorang yang khianat tidak pantas menjadi Nabi, apalagi Rasul.
  • At-Tabligh (menyampaikan), Artinya seorang Rasul akan menyampaikan apa saja yang diperintahakan oleh Allah SWT untuk disampaikan. Mustahil seorang Rasul mempunyai sifat Kitman atau (menyembunyikan) wahyu ilahi. Jika itu terjadi tentu batal nubuwwah dan risalahnya.
  • Al-Fathanah (cerdas), Artinya seorang Rasul memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi, pikiran yang jernih, penuh kearifan, dan kebijaksanaan. Mustahil seorang Rasul memiliki sifat Baladah atau (tidak cerdas atau pelupa).
  1. Tugas dan Mukjizat Rasul

Allah menciptakan manusia dan membekalinya dengan akal. Akal inilah yang menjadi syarat taklif. Karena akal ini manusia karena akal ini manusia akan dihisab amalnya, dengan akal ini ia bisa membedakan barang-barang dan memisahkan antara yang berguna dengan yang berbahaya. Allah telah mengistimewakan para rasul dari segenap makhluk biasa. Allah menjaganya dari tipu muslihat setan. Apabila hal itu digabungkan dengan ajaran mereka, maka akan menjadi bukti kuat tentang kebenaran mereka bagi orang-orang yang Allah telah menyinari mata hatinya. Allah telah mendukung mereka sebagai tambahan atas hal tersebut dengan sesuatu yang memaksa akal untuk mempercayainya.[11]

Para rasul adalah bukti nyata, manakala digabungkan dengan ihwal rasul tersebut dengan rasul-rasul sebelumnya berikut dakwahnya. Maka wajib atas umatnya mengimani serta mengikutinya. Tanda-tanda dan bukti-bukti kebenaran mereka sudah jelas, ada bukti utama atas kebenarannya, serta memperkokoh keimanan orang-orang mukmin terhadapnya. Mukjizat rasul didefinisikan sebagai segala sesuatu yang biasa yang terjadi melalui tangan-tangan para nabi Allah dan rasulNya dalam bentuk sesuatu yang membuat manusia lainnya tidak dapat melakukan hal serupa.[12]

Melalui tangan para nabi dan rasul telah terjadi mukjizat-mukjizat yang memaksa akal sehat untuk tunduk dan mempercayai apa yang dibawa oleh para rasul, mukjizat-mukjizat tersebut tidak lepas dari bentuk:[13]

  1. Ilmu, seperti pemberitahuan tentang hal-hal ghaib yang sudah terjadi ataupun yang akan terjadi, mislanya: pengabaran Nabi Isa as. Kepada kaumnya tentang apa yang mereka makan dan apa yang mereka simpan di rumah-rumah mereka. Sebagaimana juga pengabaran Nabi Muhammad saw. Tentang fitnah-fitnah atau tanda-tanda hari kiamat yang akan terjadi yang banyak dijelaskan dalam hadis.
  2. Kemampuan dan kekuatan, seperti mengubah tongkat menjadi ular besar, yakni mukjizat Nabi Musa as. Yang diutus kepada Fir’aun dan kaumnya. Selain itu, mukjizat Nabi Isa as. Yaitu penyembuhan penyakit buta, kulit belang-belang putih (sopak) serta menghidupkan orang yang sudah mati. Dan Nabi Muhammad saw dapat membelah rembulan menjadi dua dan juga alquran.
  3. Kecukupan, misalnya perlindungan bagi Rasulullah saw dari orang-orang yang ingin berbuat jahat terhadapnya. Hal ini sering terjadi ketika di Mekkah sewaktu ingin hijrah, ketika dalam gua, dan lain-lain. Contoh ini menunjukkan bahwa Allah mencukupi rasulNya dengan perlindungan-Nya.

 

  1. Hikmah Beriman Kepada Rasul

Beriman kepada Rasul Allah memiliki hikmah yang sangat baik bagi kehidupan manusia, baik dalam kehidupan secara pribadi maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Adapun hikmah-hikmah dengan kita beriman kepada rasul allah, antara lain:

  • Allah swt mengutus para rasul untuk menyeru kepada manusia agar menyembah hanya pada Allah swt semata dan tidak menyekutukanNya dengan yang lain.
  • Allah mengutus para rasul untuk menegakkan agama, serta melarang mereka berpecah belah.
  • Allah mengutus para rasul untuk memberi kabar gembira dan peringatan.
  • Allah mengutus para rasul untuk memberikan teladan yang baik bagi manusia dalam perilaku yang lurus, akhlak yang mulia dan ibadah yang benar.[14]

Selain itu, beriman kepada para rasul memiliki pengaruh yang sangat agung dalam kehidupan, diantaranya:[15]

  1. Mengetahui rahmat Allah swt dan perhatianNya kepada hambaNya, karena diutusnya para rasul untuk memberi petunjuk pada jalan yang benar serta menjelaskan kepada manusia bagaimana cara menyembahNya. Allah berfirman tentang Nabi kita Muhammad saw.:

!$tBur š»oYù=y™ö‘r& žwÎ) ZptHôqy‘ šúüÏJn=»yèù=Ïj9 ÇÊÉÐÈ

Artinya: “Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (QS Al- Anbiya (21):107)

  1. Bersyukur kepada allah swt atas nikmat yang agung.
  2. Kecintaan, pengagungan dan pujian kepada rasul, karena rasul juga memberi nasehat yang baik kepada umatnya.
  3. Mengikuti risalah yang dibawa para rasul dan mengamalkannya, yang membawa kepada kebaikan, hidayah, dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

     [1] Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta:PT Mahmud Yunus Wadzuryah, 1990), h. 141.

     [2] ibid, h. 436-437.

     [3] Agus Hasan bashori, Kitab Tauhid 2, (Jakarta:Yayasan Al-Sofwa, 1998), h. 83.

     [4] Masjfuk Zuhdi, Studi Islam, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 1993), h. 63.

     [5] ibid, h. 50.

     [6] Ibid, h, 67.

     [7] Ibid, h. 113.

   [8] Agus Hasan Bashori, Ibid, h. 95.

   [9] Abdul Azis, Pelajaran Tauhid untuk Tingkat Lanjutan, (Jakarta: Yayasan Al-Sofwa, 2000), h. 52.

     [10] Ibid

     [11]Agus Hasan Bashori, loc. cit, h. 90.

     [12] Ibid, h. 91.

     [13] Ibid, h. 91-92.

     [14] Abdul Azis op. cit, h. 56-59.

     [15] Ibid, h. 64.

BERPIKIR KRITIS

  1. Berpikir Kritis
  2. Pengertian Berpikir Kritis

Kemampuan berpikir kritis, yakni kemampuan siswa menggunakan potensi-potensi intelektualnya dalam menyelesaikan permasalahan secara sistematis, rasional dan empiris, yakni dapat menghubungkan permasalahan dengan penyebabnya, mampu menampilkan logika yang rasional dan dapat diterima oleh pikiran orang lain, dan semuanya berbasis pada data.[1]

Sedangkan istilah kritis lebih merupakan masalah disposisi (watak) daripada kecakapan (ability) dan tidak merujuk pada pikiran, namun sebagaimana dinyatakan oleh Perkins, Jay dan Tishman bahwa pemikiran yang baik meliputi disposisi-disposisi untuk:[2]

  • Berpikir terbuka, fleksibel dan berani mengambil resiko
  • Mendorong keingintahuan intelektual
  • Mencari dan memperjelas pemahaman
  • Merencanakan dan menyusun strategi
  • Berhati-hati secara intelektual
  • Mencari dan mengevaluasi pertimbangan-pertimbangan rasional
  • Mengembangkan metakognitif.

Istilah kritis tidak merujuk pada pemikiran, tetapi pemikiran yang mendalam akan menghasilkan pengetahuan atau wawasan baru dan memberikan sebuah landasan bagi kualitas intelegensi.[3]

Jadi, Berpikir rasional dan kritis adalah perwujudan perilaku belajar terutama yang bertalian dengan pemecahan masalah. Pada umumnya siswa yang berpikir rasional dan kritis akan menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan “bagaimana” (how) dan mengapa (why). Dalam berpikir kritis, siswa dituntut menggunakan simpulan-simpulan, dan bahkan juga menciptakan hukum-hukum (kaidah teoritis) dan ramalan-ramalan. Dalam hal berpikir kritis, siswa dituntut menggunakan strategi kognitif tertentu yang tepat untuk menguji keandalan gagasan pemecahan masalah dan mengatasi kesalahan atau kekurangan.[4]

Para ahli psikologi dan pendidikan semakin menyadari bahwa anak-anak di sekolah tidak hanya harus mengingat atau menyerap secara pasif berbagai informasi baru, melainkan mereka perlu berbuat lebih banyak dan belajar bagaimana berpikir kritis. Anak harus memiliki kesadaran akan dirinya dan lingkungannya. Karena itu, pendidikan di sekolah haruslah mampu membangun kesadaran kritis anak didik.[5]

Benyamin Bloom, mengklasifikasikan kemampuan hasil belajar ke dalam tiga ranah, yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik. Ketiga tingkatan itu dikenal dengan istilah Bloom’s Taxonomy (Taksonomi Bloom).[6] Dalam penelitian ini, penulis hanya akan mengungkapkan hasil belajar ranah kognitif saja. Ranah kognitif meliputi kemampuan pengembangan keterampilan intelektual (knowledge) dengan tingkatan-tingkatan sebagai berikut:[7]

  1. Pengetahuan (C1), mencakup ingatan akan hal-hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan. Hal-hal itu dapat meliputi fakta, kaidah dan prinsip, serta metode yang diketahui. Pengetahuan yang disimpan dalam ingatan, digali pada saat dibutuhkan melalui bentuk ingatan mengingat (recall) atau mengenal kembali (recognition).
  2. Pemahaman (C2), mencakup kemampuan untuk mengkonstruk makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam menguraikan isi pokok suatu bacaan; mengubah data yang disajikan dalam bentuk tertentu ke bentuk lain, seperti rumus fisika ke dalam bentuk kata-kata; membuat perkiraan tentang kecenderungan yang nampak dalam data tertentu, seperti dalam grafik.
  3. Aplikasi (C3), Mencakup penggunaan suatu prosedur, guna menyelesaikan masalah atau mengerjakan tugas. Adanya kemampuan dinyatakan dalam aplikasi suatu rumus pada persoalan yang belum dihadapi atau aplikasi suatu metode kerja pada pemecahan problem baru.
  4. Analisis (C4), Menguraikan suatu permasalaan atau objek keunsur-unsurnya dan menentukan bagaimana saling keterkaitan antara unsur-unsur tersebut. Hal ini mencakup kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik.
  5. Sintesis (C5), mencakup kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan atau pola baru. Bagian-bagian yang dihubungkan satu sama lain, sehingga terciptakan suatu bentuk baru. Adapun kemampuan ini dinyatakan dalam membuat suatu rencana seperti penyusunan materi pelajaran atau proposal penelitian ilmiah.
  6. Evaluasi (C6), Membuat suatu pertimbangan berdasarkan kriteria dan standar yang ada. Mencakup kemampuan untuk membentuk suatu pendapat mengenai sesuatu atau beberapa hal, bersama dengan pertanggungjawaban pendapat itu, yang berdasarkan kriteria tertentu.

Taxonomy of Thinking yang dikembangkan melalui hasil penelitian Edward De Bone tahun 1993 pada siswa-siswa sekolah menengah (Secondary school) dengan tema penelitian tentang CoRT (Cognitive Research Trust), yang didukung pula dengan hasil riset Goodlad tahun 1984 serta Brandt tahun 1984. Dengan demikian, peluang untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis sudah terbukti bisa dikembangkan pada tingkat sekolah menengah, hanya saja untuk itu, perlu peningkatan kreatifitas para peneliti, para guru, pengawas serta pengelola pendidikan.[8]

Sejalan dengan itu, secara ideal, siswa-siswa pada tingkatan sekolah menengah atau pada tingkat pendidikan tingkat dasar berjenjang SLTP, sebenarnya bisa dimulai untuk dilatih berpikir kritis dan berpikir kreatif sesuai dengan dunianya, baik terintegrasi dalam proses pembelajaran secara formal maupun di luar itu, karena bentuk ideal warga negara yang cerdas tidak saja paidai dalam menghitung matematika pandai ilmu-ilmu fisika atau ilmu kealaman lainnya, atau pandai berbagai bahasa, kalau tidak kritis dan kreatif, kecerdasannya akan kurang berguna.[9]

Dalam perkembangan psikologi kognitif seorang ahli psikologi Piaget meyakini bahwa anak-anak secara bertahap membentuk pemahaman tentang dunia melalui penjelajahan aktif dan termotivasi, yang mengarah pada pembentukan struktur-struktur mental. Kualitas berpikir berbeda pada setiap tahap, berikut ini:[10]

  1. Tahap Sensorymotorik (0-2 tahun)

Perkembangan bergantung pada tindakan bayi menggunakan indra-indra dan keterampilan-keterampilan motoriknya untuk menjelajahi dan belajar tentang dunia.

  1. Tahap PraOperasional (2-7 tahun)

Pada tahap ini anak-anak belum bisa melakukan operasi-operasi mental (tugas-tugas berpikir logis), kendati awal penalaran logis dan berpikir simbolik telah tampak.

  1. Tahap Operasional Konkret (7-11 tahun)

Mampu untuk menjawab pertanyaan inklusi kelompok dengan dan dengan alasan logis, anak-anak dapat menalar secara logis dan memahami hubungan-hubungan kausal, namun penalaran anak hanya dapat dikaitkan pada contoh-contoh yang konkret spesifik dan belum kepada penalaran hipotesis.

  1. Tahap Operasional Formal (11 tahun-dewasa)

Pemikiran menjadi lebih logis pada tahap ini, dapat menyelesaikan masalah dan menguji solusi-solusinya dengan cara sistematis dan terorganisasi, dan kemampuan melakukan penalaran abstrak juga meningkat.

  1. Langkah-Langkah Untuk Menjadi Pemikir Kritis

Setiap orang dapat belajar untuk berpikir kritis termasuk para siswa, karena otak manusia secara konstan berusaha memahami pengalaman. Dan pencarian akan suatu makna dan menghubungkan ide abstrak dengan konteksnya di dunia nyata.[11] Berikut langkah-langkah berpikir kritis, sebagai berikut:

  • Sebuah masalah yang diteliti sebelum digambarkan dengan jelas. Oleh karena itu, masalah yang diteliti harus dijelaskan dengan setepat-tepatnya. Indikatornya antara lain:
  1. Mampu menjelaskan masalah yang diteliti dengan jelas
  2. Mampu memecahkan suatu masalah dengan cermat
  • Kolaborasi, pembelajaran berdasarkan masalah dicirikan oleh siswa yang bekerja sama satu dengan lainnya. Indikatornya:
  1. Mampu bekerja sama secara berpasangan maupun kelompok kecil.
  2. Mampu memberikan motivasi secara berkelanjutan terlibat dalam tugas.
  3. Mampu memberi peluang untuk berbagi, berdiskusi, dan untuk mengembangkan keterampilan sosial serta keterampilan berpikir.
  • Keterbukaan, pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Indikatornya antara lain:[12]
  1. Memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis
  2. Memberi kesempatan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan.
  • Interaksi, proses pembelajaran pada dasarnya ialah proses interaksi. Baik interaksi siswa kepada guru maupun antar siswa.[13]
  • Memberikan alasan yang diajukan dengan mengidetifikasi alasan. Pengajuan alasan yang bagus didasarkan pada informasi yang dapat dipercaya dan relevan. Indikatornya antara lain:
  1. Mampu memberikan alasan yang dapat dipercaya
  2. Mampu memberikan informasi berdasarkan hasil yang relevan
  3. Mampu menganalisis sumber yang akan dijadikan relevansi
  • Bahasa, pemikir kritis berusaha untuk memahami. Menggunakan bahasa yang jelas agar mudah dipahami dan apabila kata-kata yang tidak digunakan dengan tepat akan menghalangi pemahaman. Indikatornya antara lain:
  1. Mampu menggunakan bahasa yang jelas
  2. Mampu memberikan pertanyaan dan pendapat
  • Memberikan kesimpulan dari hasil pengumpulan dan pengevaluasian informasi dalam pemecahan suatu masalah. Indikatornya antara lain:
  1. Mampu memberikan kesimpulan suatu masalah
  2. Mampu mengevaluasi suatu informasi

Mempertanyakan implikasi dari kesimpulan yang telah diambil. Jika pemikir kritis mengindikasikan bahwa kesimpulan yang diambil tidak akan merugikan, pemikir kritis akan memakainya.[14]

Dalam mengembangkan kesadaran berpikir kritis siswa melalui proses pendidikan, guru dan murid harus berperan sebagai pemain bersama, bersama-sama memecahkan suatu masalah. Baik guru ataupun murid bersama-sama mencari dan bertanggung jawab dalam suatu proses pertumbuhan. Dalam proses ini akan terjadi dialog dan komunikasi horizontal. Pelaksanaan pendidikan inilah yang membangkitkan kesadaran kritis siswa. Siswa akan sadar dengan ketidakmampuannya, sadar akan adanya perkembangan yang terus bergerak maju.[15]

     [1] Opcit, Dede Rosyada, h. 297.

    [2] Samsunuwiyati Mar’at, Psikologi Perkembangan, (Bandung:PT Remaja Rosdakarya, 2012), h. 161.

     [3] ibid.

     [4] Muhibbin syah, Psikologi Pendidikan, (Bandung:PT Remaja Rosda, 2010), h. 118.

     [5] Ibid, h. 162.

     [6] W. S.Winkel, Psikologi Pengajaran (Yogyakarta: Media Abadi, 2005), h. 59.

     [7] Ibid, h. 274.

     [8] Dede Rosyada, Op.Cit, h.106.

     [9] Ibid, h. 107.

     [10] Penney Upton, Psikologi Perkembangan, (Jakarta:Erlangga, 2012), h. 155-160.

     [11] Elaine B. Johnson, CTL (Contextual Teaching & Learning) Menjadikan Kegiatan Belajar-Mengajar Mengasyikan dan Bermakna, (Bandung:Kaifa, 2009), h. 191.

     [12] Trianto, op.cit, h. 81.

     [13] ibid

     [14] Ibid, h. 192-201.

     [15] Ibid, h. 161.

Qowaidh Fiqhiyyah kaidah Aghlabiyyah ke 31-35

  1. KAIDAH KE- 31

النَّفْلُ أَوْسَعُ مِنَ الْفَرْضِ

“Sunnah lebih luas cakupannya dibandingkan fardhu”

Sebelum masuk kepada penjelasan kaidah, perlu kiranya mengingat kembali perbedaan antara sunnah dan fardhu pada konteks fiqh dengan tujuan agar kaidah tersebut bisa lebih mudah untuk dipahami.

Sunnah mempunyai makna mengajak kearah sesuatu yang penting dan positif. Dalam terminologi ushul fiqh, sunnah merupakan sesuatu yang pemberlakuannya dituntut oleh syariat, namun tidak dengan tekanan yang tegas. Artinya, seseorang yang melakukan sebuah sunnah akan mendapatkan pahala serta pujian dari Allah SWT, namun jika seseorang meninggalkannya tidak menimbulkan adanya dosa atau siksa dari-Nya.[1] Sedangkan fardhu adalah sesuatu yang dituntut pelaksanaannya secara tegas, yang akan menimbulkan efek jika meninggalkannya akan mendapatkan dosa atau siksa dari Allah SWT.

Dari perbedaan tersebut bisa dilihat atau ditemukan bahwa sunnah merupakan perkara yang lebih luas cakupannya ketimbang fardhu. Ini disebabkan karena dalam aturan perkara yang fardhu itu sudah jelas dan tegas, atau bisa dikatakan tidak bisa diganggu gugat. Tetapi pada perkara yang sunnah terdapat kebebasan atau tidak ada keterikatan yang tegas bagi seseorang. Dengan demikian fardhu merupakan sesuatu yang mesti untuk dikerjakan, sedangkan sunnah merupakan sesuatu yang boleh atau tidak harus untuk dikerjakan. Oleh karena itu, sunnah lebih fleksibel dan terkadang dikerjakan untuk memperoleh keistimewaan dan manfaat tertentu.

Kaidah diatas maksudnya adalah melaksanakan suatu perbuatan yang disyariatkan sunnah, dalam pelaksanaannya lebih luas daripada melaksanakan suatu perbuatan yang disyariatkan pada perbuatan yang wajib atau fardhu.[2] Beberapa aplikasi dari kaidah ini adalah:

  1. Melakukan shalat sunnah bagi orang yang sedang dalam perjalanan yang diperbolehkan (tidak dalam rangka kemaksiatan) dapat dilakukan tanpa menghadap kiblat. Toleransi ini tidak berlaku dalam sholat fardhu dan pada sholat sunnah yang tidak dalam kondisi bepergian.
  2. Tidak dibolehkan melakukan satu tayamum untuk beberapa kali shalat fardhu. Sedangkan shalat sunnah dapat dikerjakan dengan tayamum yang sudah digunakan untuk sholat fardhu. Satu tayamum juga diperbolehkan untuk beberapa kali mengerjakan shalat sunnah.[3]
  3. Menjalankan puasa sunnah boleh diniati diwaktu pagi hari, namun puasa fardhu harus diniati sebelum waktu subuh tiba.[4]

Meskipun secara umum, ketentuan-ketentuan dalam ibadah sunnah lebih lentur atau fleksibel daripada ibadah fardhu, namun terdapat beberapa aktivitas sunnah yang dianggap lebih sempit ketentuannya dibanding dengan fardhu. Konsep ini merujuk pada ketentuan kaidah “Hal-hal yang dibolehkan dalam kondisi darurat, pemenuhannya diseseuaikan dengan kadar situasi darurat yang menyebabkannya”. Berikut adalah pengecualian dari kaidah diatas:

  1. Dalam kondisi terpaksa atau darurat dibolehkan memakan bangkai yang dalam kondisi normal diharamkan. Dalam konteks ini, memakan bangkai ditolerir sebatas yang wajib saja, sedangkan yang sunnah misalnya untuk lebih membuat kenyang tidak diperbolehkan.
  2. Bagi orang yang tidak menemukan alat bersuci, wajib melaksanakan shalat fardhu tanpa bersuci. Namun dalam shalat sunnah perbuatan tersebut tidak diperbolehkan.
  3. Bagi seseorang yang tidak menjumpai sesuatu apapun untuk menutup aurat, ia diwajibkan untuk melumuri tubuhnya dengan lumpur guna melaksanakan shalat fardhu. Perbuatan tersebut tidak berlaku untuk untuk mengerjakan shalat sunnah.
  4. Tidak dimakruhkan menahan hadats dalam pelaksanaan shalat fardhu, tetapi makruh hukumnya menahan hadats dalam melaksanakan shalat sunnah.[5]
  5. KAIDAH KE- 32

الْوِلاَيَةُ الْخَاصَّةُ أَقْوَى مِنَ الْوِلاَيَةِ الْعَامَّةِ

“ Wilayah (kekuasaan) khusus lebih kuat daripada wilayah umum”

Menurut kaidah ini, suatu perkara atau sesuatu benda yang berada di bawah kekuasaan, maka pemegang kekuasaan yang khusus terhadap perkara atau benda tersebut mempunyai kedudukan dan wewenang yang lebih kuat daripada penguasa umum, yang kekuasaannya meliputi terhadap perkara dan benda tersebut. Oleh karenanya selama masih ada dan berfungsi penguasa khusus, penguasa umum tidak boleh bertindak mengenai perkara atau benda tersebut.[6]

Dalil atau dasar dari kaidah ini adalah terinspirasi dari hadits Nabi SAW ;

السُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهُ

“Seorang sulthan adalah wali anak yang tidak mempunyai wali (sesungguhnya)”[7]

Kata al-sulthan pada awalnya hanya berarti orang yang menduduki jabatan tertinggi, dalam hadits ini menurut Syaikh Yasin, akan memasukan Qadhi ke dalamnya. Dengan pernyataan ini, maka dapat ditarik suatu pemahaman bahwa apabila masih ada seorang wali yang mempunyai wilayah khusus, maka seorang hakim atau qadhi yang mempunyai kekuasan umum tidak berwenang melakukan hal-hal yang menjadi wewenang seorang wali khusus.[8] Seorang yang berstatus sebagai qadhi atau semacamnya hanya memiliki kewenangan pada saat tertentu, diantaranya pada saat wali khusus tidak ada.

Dalam tataran praktis, seorang qadhi tidak memiliki kewenangan atas seorang anak jika masih ada orang tua atau kakek. Sebab, walaupun qadhi memiliki kekuasaan di wilayah yudisial, tapi kekuasaannya masih sangat umum, sehingga jika bapak atau kakek masih hidup maka kekuasaan qadhi secara otomatis menjadi terhalang.

Beberapa contoh dari kaidah diatas adalah:

  1. Wewenang untuk mengelola harta dan pernikahan. Sebagaimana kekuasaan seorang ayah terhadap anaknya. Ini mengandung pengertian bahwa seorang ayah memiliki wewenang yang cukup luas terhadap anaknya, yang mencakup permasalahan harta benda maupun kewenangan pernikahan.
  2. Wilayah (perwalian) dalam menuntut atau menggugurkan pelaksanaan diyat.[9]
  1. KAIDAH KE- 33

لاَ عِبْرَةَ بِالظَّنِّ الْبَيِّنِ خَطَؤُهُ

“Tidak ada pembenaran bagi dugaan yang terbukti keliru”

  1. Pengertian Kaidah

Dalam pergumulan hidup sehari-hari, tidak jarang sesuatu yang diasumsikan sebagai kebenaran, ternyata tidak sesuai dengan realitas. Dis-asumsi ini memang sudah menjadi karakter dasar manusia yang cenderung terburu-buru dalam membangun persepsi.

Dalam konstruk yurisprudensi Islam (baca : fiqh), permasalahan mengenai prasangka, praduga, persepsi, atau asumsi seorang muslim menempati posisi sangat strategis. Sebab, dengan dasar itulah, aktivitas ibadah, mu’amalah, dan vonis kehakiman yang diambilnya bisa mendapat legitimasi syariat. Akan tetapi, bukan berarti setiap praduga (zhan) bisa dijadikan landasan. Karena itu, dalam kaidah ini ditegaskan bahwa zhan dapat dijadikan pijakan jika sesuai dengan realitas-praktis (nafs al-amr). Zhan yang jelas-jelas salah; al-bayyin khatha’uhu akan dikesampingkan sama sekali.

Secara sederhana, zhan hanyalah sebuah prasangka atau persepsi yang terbangun dalam fikiran manusia. Dalam perspektif fiqh, zhan mempunyai makna yang lebih spesifik. Mengutip Muhammad Shidqi bin Ahmad dalam al-Wajiz nya. Zhan merupakan buah dari kreativitas pikiran manusia dalam menarik titik simpul yang lebih kuat diantara dua  pilihan, berdasarkan dalil-dalil yang diperhitungkan syariat.[10]

  1. Dasar Kaidah

Allah swt. telah memberi sinyal kepada kita untuk selalu meningkatkan kewaspadaan, sebagaimana tertuang dalam firman-Nya :

 “ Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”

Dalam ayat diatas, Allah swt. melarang kita terlalu menuruti persangkaan, namun tidak melarang secara mutlak untuk mengikuti zhan. Hal ini menyiratkan bahwa dugaan, prakiraan, asumsi, persepsi, atau yang sejenisnya, sebenarnya memiliki dua karakter yang bertolak belakang. Dalam beberapa bagian, prasangka dianggap baik dan dapat digunakan sebagai pijakan untuk menentukan sebuah keputusan. Sebagaimana yang diberlakukan dalam proses penganalogian (qiyas) terhadap obyek hukum yang tidak memiliki landasan nash yang jelas, banyak sekali ketetapan hukum syariat yang dicetuskan dari persangkaan-persangkaan.

Namun disaat yang lain, prasangka dapat menjadikan pelakunya tergolomg sebagai pelaku dosa, terutama sesuai dengan konteks yang melatarbelakangi turunnya ayat di muka. Jika berupa pergunjingan terhadap kejelekan orang lain. Prasangka semacam ini adalam prasangka yang tidak memiliki dasar yang kuat untuk dijadikan pegangan dan hanya rabaan saja.

Dengan begitu, persangkaan selalu menawarkan dua kemungkinan akibat, valid atau meleset. Karena karakternya yang masih remang-remang semacam ini, turun ayat dimuka. Yang mendorong untuk tidak terlalu banyak menggunakan persangkaan dalam memutuskan atau memvonis segala sesuatu. Jika mungkin untuk menuju pada keyakinan, maka sangat ditekankan untuk dapat menggapainya. Jikapun tidak, harus ada unsur-unsur yang menjadi penguat bahwa persangkaan tersebut condong kepada kebenaran. Nabi saw. Bersabda :

“kamu semua hendaknya menghindari segala prasangka, karena sesugguhya prasangka adalah cerita hati yang paling dusta.

  1. Cakupan Kaidah
  2. Ijtihadiyyah

Apabila seorang mujtahid telah mencetuskan satu produk hukum sesuai ijtihadnya, akan tetapi dalam perkembangannya ia mendapati dalil lain yang lebih kuat dan nyata-nyata bertentangan dengan apa yang telah ia cetuskan sebelumnya, maka keputusan pertama itu harus ditarik kembali dan dibatalkan. Sang mujtahid harus berpegang pada dalil kedua sebagai landasan hukum.

  1. Peradilan (qadlaya)

Obyek persoalan yang tercakup dalam masalah qadlaya, antara lain seperti keputusan yang diambil seorang hakim atas sebuah delik pengaduan. Jika keputusan itu diambil berdasarkan bukti-bukti otentik yang mendorong timbulnya dugaan kuat bahwa keputusan tersebut adalah benar, maka ia harus dipatuhi. Akan tetapi, bila terdapat fakta baru yang membuktikan bahwa keputusan itu tidak sesuai kenyataan, maka ia batal secara hukum dan harus dianulir. Misalnya, saksi yang dihadirkan ternyata orang gila (majnun).Padahal orang gila tidak memenuhi kriteria untuk menjadi saksi. Seorang saksi haruslah orang yang telah baligh dan berakal sehat.

  1. Mu’amalah

Contoh pada persoalan mu’amalah yaitu, bila seorang kreditur (madin) saat membayar hutang-hutangnya kepada debitu (da’in) ternyata telah ditanggung dan dilunasi oleh orang lain (kafil), maka si kreditur berhak menarik kembali uang yang telah ia serahkan. Sebab, nyata-nyata hutangnya telah lunas.[11]

  1. Implikasi Salah Sangka

Secara global terdapat beberapa implikasi-implikasi yang timbul dari asumsi semacam ini. implikasi tersebut antara lain dipaparkan oleh al-Hishni sebagai berikut:

  1. Kesalahan asumsi yang menjadikannya tidak diperhitungkan dan sama sekali tidak memberi pengaruh Contoh :
  • Orang yang mendirikan shalat karena mengira bahwa maktunya telah tiba, jika didapati kenyataan yang sebaliknya, maka shalat yang telah dilakukan harus diulangi kembali.
  • Bersuci dengan air yang dianggap suci, jika dalam masa berikutnya diketahui diketahui bahwa air itu najis, maka proses besuci itu tidak dihukumi sah.
  • Seseorang melakukan i’tikaf di suatu tempat yang menururut dugaannya adalah masjid, i’tikafnya tidak sah jika ternyata tempat itu merpakan bangunan milik orang lain.
  1. Dugaan yang keliru namun masih berpengaruh terhadap hal-hal yang menjadi konsekuensinya. Beberapa kalangan menjadikan ini pengecualian kaidah. Beberapa hal yang termasuk di dalamnya adalah :
  • Jika kita bermakmum kepada seseorang yang menurut dugaan kita telah suci dari dari hadats maupun najis, tapi beberapa saat berikutnya kita mengetahui bahwa orang tersebut berhadats, maka shalat yang kita kerjakan tetap sah meskipun didirikan atas persepsi yang keliru. Kecuali itu berupa shalat jum’at.
  • Seorang suami yang mengucapkan perkataan talak terhadap wanita yang dalam asumsinya adalah orang lain, karena kondisi gelap atau berada di balik tirai, jika kemudian diketahui bahwa wanita itu adalah istrinya sendiri, maka talaknya tetap berlangsung meski ia melakukannya berdasarkan dugaan yang tidak benar.
  1. Kesalahan asumsi yang masih diperselisihkan pengaruhnya terhadap aktivitas yang dilakukan. Sebagai gambaran cermati contoh

Suatu ketika dalam suasana perang, kaum muslimin melihat bayangan hitam yang menyeruoai sekawanan musuh yang menumbuhkan kekhawatiran di benak mereka. Karenanya, dilaksanakanlah shalat syiddah al-khawf karena waktu itu shalat harus segera didirikan. Setelah shalat selesai, selidik punya selidik ternyata bayangan hitam tadi bukanlah kawanan musuh, tapi segerombolan kambing yang pulang kemalaman. Lalu bagaimana shalat yang telah dikerjakan dengan bentuk syiddah al-khawf ini, wajib diulangi atau tidak, terjadi silang pendapat menyikapi kejadian ini. sebagian ulama mewajibkan diulanginya shalat tersebut karena jelas-jelas dilakukan dalam persepsi keliru dan tidak ada kondisi darurat yang mendorong dilakukannya shalat syiddah al-khawf. Namun ulama lainnya berpendapat bahwa pengulangan shalat tidak diperlukan, karena format shalat syiddah al-khawf  sangat bergantung pada suasana batin yang diliputi kecemasan, dan itu memang sudah terjadi pada waktu shalat tersebut dikerjakan.

  1. KAIDAH KE – 34

اَلْاِشْتِغَاِل بِغَيْرِالْمَقْصُوْدِ إِعْرَضُ عَنِ الْمَقْصُوْدِ

               “ Berbuat yang bukan dimaksud, berarti berpaling dari yang dimaksud. (sehingga karenanya batal yang yang dimaksud) “.

Menurut kaidah, bahwa suatu perbuatan yang dikerjakan tanpa suatu maksud tertentu, maka terhadapnya (perbuatannya) itu tidak dapat dihukumkan kepada maksud tertentu.

Berpaling dari orang lain adalah bahasa tubuh (hal; body language) yang menunjukkan rasa tidak suka, takut, acuh tak acuh, antipati, dan sebagainya. Dalam tataran hukum formal, “berpaling” – dalam tanda kutip – dapat pula berupa ketidaksigapan seseorang dalam menyikapi masalah yang sedang ia hadapi. Begitu ia tidak mengambil sikap yang seharusnya ia lakukan, ia sudah dianggap “berpaling” dari apa yang sebenarnya menjadi tujuan awalnya. Yang dimaksud berpaling disini adalah tidak menghiraukan apa yang sebenarnya menjadi tujuan awal pekerjaannya. Dengan tidak adanya kesigapan dan tidak hirau, dalam tataran hukum, ia telah dianggap tidak memperdulikan apa yang seharusnya menjadi haknya. [12]

Contoh kaidah :

  1. Orang bersumpah tidak bertempat tinggal pada suatu rumah. Kalau setelah bersumpah itu dia mondar-mandir di rumah tersebut. Berarti dia telah melanggar sumpahnya. Tetapi kalau dia mondar-mandir itu karena sibuk mengumpulkan barang-barangnya karena kepindahannya, maka dia tidak melanggar sumpah.
  2. Orang berusaha mengambil syuf’ah. Pada waktu berjumpa dengan orang yang telah membelinya, dia berkata: kamu beli dengan harga berapa? Atau: “apakah kamu telah membelinya dengan harga murah?”. Disini hak syuf’ah menjadi gugur, sebab mengambil syuf’ah harus segera.[13]

Batasan “Berpaling”

               Secara cerdas, Zarkasyi membagi i’radl ini menurut tinjauan jenis kepemilikan. Menurutnya, jika status kepemilikan seseorang adalah kepemilikan yang lazim (tetap), maka kepemilikannya ini tidak gugur disebabkan “berpaling”. Seperti halnya ucapan salah satu diantara dua orang anak yang memilikihak warisan : “Aku tidak akan mengambil bagianku.” Maka ke-berpalingan semacam ini tidak menggugurkan hak warisnya. Sebab apa yang seharusnya ia warisi merupakan hal yang bersifat lazim (tetap). Kecuali jika ia berekinginan untuk menggugurkan warisnya, dan yang ingin dimilkinya adalah warisan berupa uang, makaharus ada serterima antara dirinya dan orang yang akan menggantikan posisinya sebagai penerima warisan;tidak hanya ungkapan bahwa ia tidak akan mengambilnya, seperti yang terjadi dalam kasus ini. Jika yang dimilkinya berupa hutang, maka harus ada proses pembebasan hutang; tidak hanya sekadar ungkapan bahwa ia tidak akan ditagih, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Jika dicermati dengan seksama, contoh yang diajukan Zarkasyi dimuka agaknya merupakan pengecualian (mustatsnayat) dari kaidah yang sedang kita kaji. Sebab didalamnya tidak terjadi pengguran hak walalupun pemiliknya “berpaling”.

  1. KAIDAH KE – 35

لاَيُنْكَرُالْمُخْتَلَفَ فِيْهِ وَاِنَّمَا يُنْكَرُ الْمُجْمَعُ عَلَيْهِ

               “ tidak diingkari perbuatan yang diperselisihkan (hukum haramnya), dan sesungguhnya yang diingkari ialah yang telah disepakati (hukum haramnya)”.

Kaidah ini memiliki nilai yang sangat penting, karena berhubungan dengan reputasi para mujtahid, saat terjadi perbedaan pendapat yang sangat tajam dianatara mereka. Padahal perbedaan adalah hal yang wajar terjadi dalam kancah dunia keilmuan, khusunya ilmu fiqh. Disini, kita tidak boleh memberikan penilaian subjektif atas pendapat mereka, dengan menilai pendapat salah seorang mujtahid lebih utama, karena kebetulan pendapatnya sesuai anagn-angan, pemikiran, keinginan, atau kepentingan kita.

Ketidakbolehan mengingkari hal-hal yang masih dipertentangkan (mukhtalaf fih) ini, karena pada dasarnya pendapat ulama yang berpendapat tentang keharaman sesuatu tidaklah tidaklah lebih utama dibandingkan ulama yang berpendapat halal. [14]

Menurut kaidah ini seseorang tidak dianggap berbuat perbuatan yang munkar, sehingga karenanya wajib diingkari (dilarang) kalau perbuatan yang dikerjakan itu hukum haramnya diperselisihkan. Tetapi baru dianggap munkar dan wajib diingkari (dicegah) kalau perbuatan tersebut keharamannya telah disepakati.[15]

Maksud disini adalah bahwa segala masalah yang telah menjadi kesepakatan atau tidak ada ikhtilaf didalamnya, tentang sesuatu hukum haram. Maka harus kita jauhi benar – benar. Sedangkan masalah yang masih ikhtilaf kita tidak wajib ingkar kepadanya.

Contoh kaidah :

  1. Sebagaimana pendapat Syafi’i yang menyatakan keharaman arak yang terbuat dari bahan selain dari perasan anggur (nabidz). Tidak dapat dikatakan lebih utama, istimewa, dan sebaginya. Dibandingkan dengan pendapat Abu Hanifah yang menyatakan kehalalannya. Ketentuan ini (tidak wajib mengingkari yang mukhtalaf fih) karena pada dasarnya pengingkaran yang wajib dilakukan hanya dapat dibenarkan pada hal-hal yang sudah disepakati keharamannya (mujma’ alaih) diantara para ulama.

Sedangkan ingkar yang dianjurkan (mandub) tidak terbatas pada hal-hal yang disepakati keharamannya. Jika ingkar yang wajibhanya menjangkau pada hal-hal yang sepakat diharamkan, maka untuk ingkar yang sunah juga berlaku pada hal-hal yang masih dipertentangkan ulama. Ingkar yang sunah ini dapat dilakukan dasar menasehati atau menganjurkan orang lain agar melakukan tindakan keluar dari perbedaan (khuruj minal khilaf).

Lebih menjelaskan tentang hal ini, syeikh Zakaria dalam Asn al-Muthalib menyatakan, ingkar jenis ini dianggap sunah hanya ketika tidak sampai menyebabkan pada khilaf yang lain, dan tidak berisiko meninggalkan sunah yang telah baku (tsbaitah). Karena pengingkaran dengan dua latarbelakang yang telah disebutkan ini adalah tindakan yang sunah dilakukan berdasarkan kesepakatan ulama.

Bagi orang yang khawatir timbulnya resiko buruk pada dirinya jika melakukan pengingkaran yang sunah ini, maka ia harus menggunakan ungkapan yang halus ini juga berlaku jika melakukan pengingkaran pada orang awam. Karena dengan metode ini keduanya akan mudah menerima dengan lapang dada terhadap maksud baik untuk mencegah dan menghilangkan perbuatan munkar.

Pengecualian Kaidah

  1. Lemahnya dalil yang dijadikan pijakan hukumsebuah pendapat. Maksud dari lemah disini adalah ketika pendapat seorang imam menurut mayoritas ulama sangat jauh dari kebenaran. Hingga apabila seorang hakim memutuskan suatu perkara dengan menggunakan hukum dari pendapat yang lemah pengambilan dalilnya, maka putusan hakim itu bisa dibatalkan.
  2. Dalam pengadilan, yang dijadikan sandaran adalah pendapat yang dijadikan pedoman seorang hakim (madzhab al-hakim), bukan pendapat pelaku. Jika dalam uraian sebelumnya disebutkan bahwa tentang halal atau tidaknya satu perbuatan berdasarkan apa yang diyakini pelaku. Namun, dalam maslah peradilan adalah sebaliknya; yang dijadikan pedoman adalah apa yang dianut hakim. Dengan demikian, jika ada seorang penganut madzhab Hanafi yang meminum nabidz yang meyakini kehalalannya, dihadapkan pada seorang hakim yang bermadzhab Syafi’i yang meyakini keharamannya, maka ia tetap dapat dijatuhi hukuman. Namun, dalam hal ini ada batasan khusus yang dismapaikan oleh Ibnu Qasim, bahwa apabila ada seorang yang melakukan pelanggaran, maka seorang hakim atau mufti tidak dibolehlan berselisih paham dengan pelaku dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan nash, ijma’, atau qiyas jali.[16]

Kiranya perlu diketahui tentang syarat-syarat ingkar yang wajib maupun sunah. Yakni, ingkar yang dialkukan tidak mendatangkan fitnah atau mudlarat. Apabila diyakini atau ada praduga kuat bahwa pengingkaran yang dilakukan akan memantiktimbulnya fitnah, maka hukum mengingkari tidak wajib juga tidak sunah, bahkan bisa berubah menjadi haram. Tindakan yang patut dilakukanhanyalah tidak mendatangi tempat yang didalmnya terdapat kemungkaran. Ia wajib terus berada di rumah dan dilarang keluar kecuali karena kebutuhan mendesak (dlarurah).

Satu catatn lagi, bahwa tidak diwajibkan berpindah tempat, kecuali jika ia tetap bertahan maka akan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan, dan dengan berpindah tempat akan menjadikan orang yang melakaukan perbuatan munkar akan menerima nasihatnya jika tidak ada asumsi kuat (zhan) ajakannya ditanggapi, baik ada prasangka kuat atau ragu (syak) bahwa ajakannya tidak ditanggapi, maka ia tidak diwajibkan melakukan pengingkaran.

Terakhir, jika tindakan pengingkaran sudah berstatus tidak wajib, sementara ia tidak khawatir akan timbulnya fitnah (bahaya), makadisunahkan melakukan pengingkaran sebagai syiar Islam.

[1] Abdul Haq, dkk, Formulasi Nalar Fiqh; Telaah Kaidah Fiqh Konseptual, (Surabaya: Khalista, 2006), hal. 291.

[2] Wahyu Setiawan, Qawaid Fiqhiyyah, (Jakarta: AMZAH, 2013), hal 168.

[3] Abdul Haq, dkk, Formulasi Nalar Fiqh; Telaah Kaidah Fiqh Konseptual, …. hal. 294.

[4]Wahyu Setiawan, Qawaid Fiqhiyyah, …. hal 168.

[5] Abdul Haq, dkk, Formulasi Nalar Fiqh; Telaah Kaidah Fiqh Konseptual, …. hal. 295.

[6] Wahyu Setiawan, Qawaid Fiqhiyyah, …. hal 169.

[7] Abdul Haq, dkk, Formulasi Nalar Fiqh; Telaah Kaidah Fiqh Konseptual, …. hal. 298.

[8] Abu Faydh Muhammad Yasin ibn Isa al-Fadani, Al-Fawaid Al-Janiyyah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1997), Cet. I, hal. 568.

[9] Abdul Haq, dkk, Formulasi Nalar Fiqh; Telaah Kaidah Fiqh Konseptual, …. hal. 303.

[10]Abdul hak dkk,  Formulasi Nalar Fiqh, (Surabaya : Khalista, 2006), hal. 307

[11]Abdul hak dkk,  Formulasi Nalar Fiqh, (Surabaya : Khalista, 2006), hal. 309

[12] Abdul hak dkk,  Formulasi Nalar Fiqh, (Surabaya : Khalista, 2006), hl. 315

[13] Drs. H. Abdul Midjib, Kaidah-kaidah Ilmu Fiqih, (Jakarta:Kalam Mulia, 2001). Hl. 95

[14] Abdul hak dkk,  Formulasi Nalar Fiqh, (Surabaya : Khalista, 2006), hl. 318

[15] ibid, Kaidah-kaidah Ilmu Fiqih, (Jakarta: Kalam Mulia, 2001), Hl. 95

[16] Abdul hak dkk,  Formulasi Nalar Fiqh, (Surabaya : Khalista, 2006), hl. 321